Ada masa ketika hidup bergerak begitu cepat hingga aku nyaris tertinggal di belakangnya. Tanggung jawab saling bertumpuk, ambisi berlari kencang, dan realitas terus menagih keberanian. Di tengah semua itu, aku tidak benar-benar kehilangan tujuan, aku hanya lupa merasakan langkahku sendiri.
Namun perlahan, perjalanan beberapa tahun terakhir menuntunku pada satu kesadaran penting: bahwa kekuatan seorang perempuan tidak selalu tampak dari gebrakan besar, tetapi sering kali muncul dari ketulusan pada hal-hal sederhana yang ia pilih untuk lakukan.
Perjalananku menjadi perempuan kuat bermula saat aku memutuskan menjadi volunteer di sebuah komunitas yang bergerak di bidang event dakwah. Saat itu aku tidak tahu apa yang sebenarnya kucari. Aku hanya merasa perlu keluar dari lingkar rutinitas dan kembali menyentuh nilai-nilai yang menegakkan diriku β kepedulian, kebermanfaatan, dan kemanusiaan.
Tugas pertamaku adalah menjadi bagian dari tim event dakwah. Aku ditempatkan di divisi koordinasi lapangan. Sekilas terlihat mudah, tetapi bagiku, itu adalah arena baru yang penuh tantangan. Ada rasa gentar, ada takut gagal, namun ada pula keberanian kecil yang diam-diam tumbuh setiap kali aku memilih untuk mencoba lagi.
Hari-hari persiapan itu menjadi titik balik bagiku. Aku belajar mendengarkan ritme kerja orang lain, menghadapi perbedaan karakter, dan menyeimbangkan emosi dengan profesionalitas. Ketika acara akhirnya sukses dan jamaah antusias, aku melihat senyum dan lega di wajah seluruh tim.
Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah gentar, tetapi tetap bergerak meski gentar.Perjalanan itu berlanjut ketika aku berkesempatan menjadi volunteer di event besar bersama 1000 santri berbagi dan mengaji. Santri kecil, tawa riang, dan rasa ingin tahu dari mata-mata kecil itu mengajarkanku bahwa kekuatan tidak selalu berbentuk ketegasan, sering kali ia menjelma menjadi kelembutan. Menyambut dan menggandeng mereka berjalan menuju masjid, membuatku memahami bahwa niat tulus tidak pernah sia-sia, terutama ketika dibagikan dengan kasih.
Sebagai sarjana pendidikan, aku akhirnya melihat betapa besar peran ilmu pedagogi dalam membuatku lebih percaya diri. Setiap pendekatan yang kupelajari, setiap metode yang kuadaptasi, membuatku kian yakin bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya membagikan pengetahuan di dalam ruangan saja, tetapi juga di ruang terbuka dan alam bebas untuk membangkitkan keberanian dalam diri anak-anak. Di situlah aku merasa menjadi perempuan yang kuat, karena aku ikut menumbuhkan kekuatan kecil di diri orang lain.
Perananku kemudian meluas ke berbagai event sosial. Di ruang ini, aku belajar bahwa kekuatan spiritual adalah fondasi yang menegakkan langkah. Dakwah bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang menghadirkan keteladanan; bukan hanya mengajak, tetapi juga membersamai. Dari kegiatan sosial, aku belajar bahwa perempuan yang kuat bukan hanya dirinya yang kokoh, tetapi yang mampu menjadi penopang bagi sekitarnya.
Selain menjadi relawan di berbagai event dakwah dan program sosial, aku terjun ke kegiatan pendidikan. Setiap kesempatan mempertemukanku dengan cerita-cerita luar biasa dari perempuan lain: yang bertahan, yang bangkit, yang tumbuh meski pernah runtuh. Dari mereka, aku belajar bahwa kekuatan perempuan adalah jaringan energi yang saling menguatkan.
Kini ketika aku melihat perjalanan ini, aku mengerti bahwa menjadi perempuan kuat bukan berarti tak pernah lelah, tak pernah goyah, atau selalu sempurna. Bagiku, perempuan kuat adalah ia yang bersedia memulai meski ragu, memberi meski sedang rapuh, dan terus bertumbuh meski perlahan.
Volunteering memberiku keberanian. Mengajar memberiku keteguhan. Berkhidmat untuk umat memberiku arah.Dari semua pengalaman itu, aku belajar bahwa kekuatan perempuan hadir bukan hanya dari pencapaian, tetapi dari ketulusan berbagi cahaya β meski kecil, meski redup, tetap bermakna.
Aku masih terus berjalan. Namun kini, langkahku lebih bermakna. Karena di dalamnya aku menemukan kekuatanku sendiri.
Tentang Penulis
Lela Siti Abibah β biasa disapa Lela, merupakan lulusan Sarjana Pendidikan. Ia seorang penulis 2 buku Antologi karya pertamanya di tahun 2024. Selain itu menjadi Ambassador Muslimah Inspiratif Best Social Media 2025. Penulis bisa dilihat di Instagram @lela_siti07.

