Setiap perempuan diciptakan dengan kadar kuatnya masing-masing. Mereka tumbuh bersama rintangan takdir yang tak sama. Beberapa darinya lihai menyembunyikan badai yang dilaluinya. Beberapa lainnya masih belajar membaca alur peta yang dihadirkan semesta.
Perempuan kuat bukanlah mereka yang tak pernah jatuh. Ia adalah dia yang mengenali badai dalam dirinya, namun tetap memilih untuk berlayar. Kapal rakitannya mungkin saja mudah goyah kala mengarungi luasnya samudera. Namun, keteguhan hatinya senantiasa menguatkan bahwa ia akan mampu melewatinya.
Ia berlayar bukan karena kekuatannya semata, melainkan atas izin dan kehendak-Nya.Inilah cerita hidupku. Perempuan yang tumbuh dengan pelbagai balutan luka yang menyelinap di balik tawa ceria. Aku lahir bersama cinta dan berusaha tumbuh untuk menebar cinta. Dulu kekuatanku mungkin tak sebesar yang kumiliki saat ini. Seiring waktu, aku tumbuh. Luka yang tertancap di tubuhku tak kubiarkan menganga hingga melemahkan daya diriku. Dapat aku katakan, aku telah berhasil bangkit dan mulai menata pijakan kakiku. Berharap tak jatuh di luka yang sama.
ΩΩΩΩΨ¬ΩΨ―ΩΩΩ ΨΆΩΨ’ΩΩΩΨ§ ΩΩΩΩΨ―Ω°Ω (QS. Ad-Dhuha: 7) β Tuhan menyelamatkan dan menuntun setiap hamba-Nya yang hilang arah untuk kembali ke dekapan-Nya.Siapa yang paling mahir menahan riuhnya badai di kepala? Siapa yang paling mahir menyimpan luka di dalam barisan-barisan doa tempat ia berlindung setiap harinya? Perempuan mahir itu adalah ia yang menyimpan kekuatan Rabb-Nya di dalam setiap langkahnya.
Tahun ini memang bukan tahun terbaik dalam hidupku. Namun, ia telah berhasil menjadikan versi diriku yang paling kuat sepanjang kaki melangkah. Hingga aku mengerti bahwa aku dilahirkan untuk menjadi perempuan tangguh.
Awal tahun kujalani dengan penuh keyakinan akan mimpi-mimpi yang kuharap akan segera tercapai. Kisah cinta yang tak selalu berjalan sesuai angan menjadikanku sedikit memiliki trust issue terhadap hubungan. Tiga tahun menjalani hidup pascapatah di usia seperempat abad tidaklah mudah. Jatuh bangun mengumpulkan kembali hati yang retak menjadi utuh seperti sedia kala. Hingga sampailah di tahun ini.
Aku mencoba membuka lembaran buku cerita yang baru, di mana hati sudah mulai penuh. Atas kuasa Tuhan Allah SWT, aku dan dia bertemu. Tuhan menghadirkan laki-laki yang selama ini kucari di sela-sela doa. Seluruh hati telah kusiapkan untuk berbagai kemungkinan, termasuk kehilangan.
Dalam setiap langkah menjalani hubungan, aku selalu berlindung kepada Tuhan. Aku dan dia mulai membawa hubungan kilat ini ke pembicaraan yang lebih serius. Semua berjalan begitu lurus. Seolah Tuhan memang merestui rencana-rencana kami. Aku selalu meminta petunjuk agar diberi yang terbaik. Dan ternyata Tuhan menjawab doaku dengan begitu cepat dan saat aku belum siap. Kisah yang baru tumbuh ini ternyata harus patah di tengah jalan.
Laki-laki itu ternyata manusia bengis yang menyimpan maksud tak baik padaku. Tabungan yang selama ini kusisihkan hampir ludes karena tipu dayanya. Ia tidaklah lebih dari seorang scammer yang ternyata sudah menelan beberapa korban dan aku salah satunya. Duniaku runtuh seketika. Dosa apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan mengujiku seolah di luar batas kemampuanku.
Setengah gila aku menjalani hidup. Menyalahkan diri sendiri, tak terima keadaan, hingga tubuh melemah tak berdaya. Dua hari aku hanya terkapar di atas kasur dan meratapi kejadian yang tak pernah aku bayangkan ada dalam cerita hidupku.
Kegagalan cinta yang kualami untuk kesekian kalinya membuktikan bahwa tak ada yang mampu mengalahkan cinta Allah kepada hamba-Nya. Sempat tak terima akan jalan cerita yang digariskan oleh-Nya, sebab rasanya tak ada satu pun kaki yang melangkah tanpa meminta perlindungan-Nya. Aku mulai menjalani hari seperti biasa sembari terus menerus bertanya-tanya kenapa luka yang diberi tak berjeda. Hingga kemudian aku tersadar, tak ada satu helai daun yang jatuh tanpa kuasa-Nya. Pun apa yang aku alami.
Tuhan merestui adanya luka karena Dia menginginkan aku menjadi perempuan yang kuat sekali lagi. Ternyata aku lupa perihal doaku yang selalu minta agar sabarku diluaskan. Mungkin inilah cara Tuhan menjawabnya. Tuhan membentukku menjadi perempuan tangguh. Aku masih terus belajar memahami tanda-tanda yang semoga tak pernah membuatku lelah.
Tuhanlah sebaik-baiknya tempat kembali dan Dialah yang selalu menanti kita kembali.Kehilangan seperti menjadi teman akrab bagiku. Sedari kecil, mataku sudah terbiasa menyaksikannya. Kehilangan mengingatkanku bahwa tak ada yang bisa manusia genggam karena semua di dunia hanyalah titipan.
Dan kehilanganku tidak usai sampai di situ. Tiga bulan menjelang akhir tahun ini, Tuhan kembali menguji seberapa kuat pundakku untuk menahan beban. Aku kehilangan keponakan yang baru menginjak masa SMA karena kanker otak. Hatiku remuk. Hari-hariku serasa berpacu dengan waktu kala harus bersinggah beberapa waktu di rumah sakit.
Berkali-kali Tuhan menopang langkahku yang hampir terseyok. Hingga akhirnya, sampailah keponakan tersayangku di ujung dunia. Aku mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Mengembalikannya ke dekapan almarhumah mamanya. Tuhan lebih menyayanginya dan kami harus ikhlas melepasnya. Rasa remuk itu seketika utuh melihat betapa banyak orang-orang yang hadir mengantarkannya pulang ke alam yang kekal. Kematiannya mungkin adalah salah satu yang diharapkan oleh beberapa dari kita. Pergi meninggalkan dunia dibersamai dengan doa yang tak henti-hentinya dan disholatkan satu masjid tak bersela.
Aku menerima dengan ikhlas semua cerita yang dituliskan. Menjalani ketetapan Tuhan atas hidupku dengan penuh lapang dan kasih. Aku berusaha menampilkan kilauan permata, namun hanya Allah Rabb-ku yang boleh melihat betapa ketidakteraturan benang-benang yang menyulamnya. Hingga lambat laun aku mulai terbiasa. Tak ada lagi pertanyaan kenapa harus aku yang mengalami kehilangan dan cerita-cerita penuh luka.
Apa-apa yang ditakdirkan pergi dari hidup ini adalah sebuah pengingat bahwa tak ada yang abadi. Apa-apa yang menurut kita tak seharusnya terjadi adalah bagian dari bentuk Allah memuji. Di kehidupan yang hanya sekali saja ini, manusia tak pernah henti-hentinya untuk belajar dalam menjalani hidup yang sebaik-baiknya. Begitu pun diriku.
Semua akan berlalu dan sembuh adalah perkara waktu.Kini aku mulai belajar untuk menyesuaikan caraku berlayar. Merawat kapal yang kurakit dengan penuh keyakinan. Kala Tuhan selalu hadir dalam langkah-langkahku, aku tak pernah berhenti mengarungi samudra. Hingga pada akhirnya waktuku usai dan aku bersandar di dermaga yang kekal.
β perihal perjalanan menemukan arti ketenangan sepanjang napas berembus β
Tentang Penulis
Nur Kholis Ida Purwati β seorang pengajar bahasa di salah satu sekolah menengah atas di Jawa Timur. Senang merangkai kata-kata dan bisa ditemui di glimpsewords.tumblr.com. Seringkali bergabung dalam event kepenulisan dan antologi karya bersama. Berkelana seorang diri adalah bentuk cara ia melihat dan menemukan dunia yang lebih luas dari kepalanya.

