Tentang keyakinan yang utuh, tentang putus asa yang tak kunjung putus, tentang percaya pada Allah secara sempurna, meski awalnya diliputi rasa cemas — kita dapat menarik hikmah dari kisah seorang perempuan bernama Shafiyah.
Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang perempuan bernama Shafiyah. Sejak kecil ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang memeluk kerja keras, ilmu, dan kasih sayang sebagai warisan utama. Setiap malam ayahnya selalu menanamkan nilai yang menjadi kompas hidupnya:
“Pendidikan adalah kunci masa depan, nak. Dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dan dengan agama hidup menjadi terarah.”Dididik dengan kedisiplinan dan kehangatan, Shafiyah tumbuh menjadi sosok yang ambisius dalam arti yang baik — rajin, terstruktur, berprestasi, dan selalu ingin belajar lebih banyak. Sejak SD hingga SMA namanya hampir selalu ada di daftar siswa terbaik. Shafiyah aktif, percaya diri, dan punya arah hidup yang jelas. Bahkan, di tahun terakhir SMA ketika banyak anak seusianya masih kebingungan, ia sudah punya peta masa depan yang disusun rapi.
Namun, takdir tak selalu berjalan lurus seperti rencana manusia. Satu per satu mimpi yang ia kejar runtuh.
SNMPTN… gagal
SBMPTN… gagal
Ujian mandiri… gagal
Sekolah kedinasan yang selama ini ia impikan pun… gagal
Hal tersebut bukan sekadar kegagalan akademik. Itu adalah runtuhnya harapan yang Shafiyah bangun sejak kecil bersama ayahnya. Ketika ia melihat teman-temannya melangkah jauh mengejar mimpinya, hatinya seperti diremas. Shafiyah mencoba tegar, tetapi di balik itu semua ia merasa seolah masa depannya tiba-tiba ditutup rapat. Shafiyah merasa bahwa hidupnya berhenti dan memaksanya berdamai dengan rasa gagal yang datang bertubi-tubi.
Kegagalan dalam hidupnya sebaliknya menjadi pintu bagi Shafiyah untuk berhijrah. Ketika ia mengikuti suatu kajian ada satu kalimat dari pemateri yang menghentikan langkah pikirnya, “kesuksesanku semata karena Allah” — kalimat sederhana, namun mendalam. Shafiyah mencari tahu lebih dalam dan menemukan bahwa kalimat tersebut merupakan tafsir QS. Hud ayat 88. Seolah Allah sendiri yang menjawab segala gundahnya. Sejak saat itu, Shafiyah kembali meluruskan niat bahwa impian yang ia kejar bukan demi dunia maupun gelar, tetapi semata karena Allah.
Hari demi hari berlalu. Dalam masa penantian selama satu tahun, Shafiyah memilih untuk tetap bergerak. Shafiyah belajar, mengasah kemampuan, bekerja, dan terus memperbaiki diri. Shafiyah mengerti meskipun mimpinya di tahun 2019 runtuh bukan berarti seluruh hidupnya berakhir. Dengan hati yang masih diliputi keraguan, tetapi penuh harap ia menata ulang mimpinya. Shafiyah terus mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi sambil berusaha istiqomah dalam mengkaji islam.
Ketika tiba saatnya Allah memperlihatkan kuasa-Nya dan Shafiyah diterima di perguruan tinggi negeri. Bahkan dengan jurusan yang bukan bagian dari mimpi lamanya. Tidak sesuai mimpi lamanya, namun entah mengapa terasa paling benar, seolah Allah berkata “ini yang terbaik untukmu dan aku tidak pernah salah mengatur.” Shafiyah pun mengerti bahwa kegagalan kemarin bukan hukuman, melainkan tangan Allah yang sedang menggiringnya menuju jalan yang lebih luas, lebih indah, dan lebih berkah.
Takdir seolah ingin menguji keteguhan hatinya sekali lagi. Shafiyah baru saja menghirup napas lega, merasakan manisnya diterima di perguruan tinggi negeri — tiba-tiba datang kabar yang merobohkan dunianya: ayahnya meninggal dunia. Berita itu datang seperti petir di langit yang sebelumnya cerah. Ayahnya yang tampak baik-baik saja, tiba-tiba pergi tanpa aba-aba, tanpa kesempatan bagi Shafiyah untuk mengatakan satu pun kata terakhir.
Rasanya seperti kehilangan separuh jiwanya, bahkan mungkin lebih. Kesedihan itu begitu dalam hingga hampir memadamkan seluruh harapan yang tersisa. Shafiyah mulai meragukan segalanya — masa depan, mimpi, dan kemampuannya untuk melangkah lagi. Bagaimana bisa ia kuliah tanpa sosok yang selama ini menjadi tiang kehidupannya. Ayahnya adalah rumah bagi semangatnya tempat ia pulang setiap kali lelah berjuang. Akan tetapi, rumah itu tiada. Shafiyah memandang ibunya, perempuan kuat yang menahan banyak hal sendirian. Ia tidak tega menambah beban yang sudah berat.
Di tengah duka yang pekat, ia sempat berpikir bahwa mungkin inilah akhir dari perjalanan pendidikannya. Mimpinya terasa jauh terlalu berat untuk dikejar sendirian, namun meski hatinya remuk ada bagian kecil dalam dirinya yang masih berbisik pelan:
“Jangan menyerah, mimpimu terlalu berharga untuk dibiarkan mati.”Dengan keyakinan yang kokoh Shafiyah melangkah maju. Ia percaya sepenuhnya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan bukan karena dunia, bukan karena gengsi, melainkan semata karena Allah. Semester pertama hampir terlewati dan segala ikhtiar ia lakukan — mendaftar berbagai beasiswa, bekerja sembari kuliah, dan terus berdoa agar Allah memudahkan jalannya.
Namun, ketika masa pembayaran UKT semester dua tiba, kekhawatiran datang menghampiri karena tabungan yang ia sisakan tidak cukup dan jalan keluar seakan tertutup rapat. Di titik paling sunyi dan rapuh itulah, justru keajaiban mengetuk pintu hidupnya. Tanpa diduga, Shafiyah menerima kabar yang membuat lututnya hampir lemas — ia mendapatkan beasiswa penuh. Bukan dari lembaga yang ia daftar, bukan dari usaha yang ia rencanakan.
Beasiswa itu datang seperti hadiah dari langit, dari doa-doa yang ia bisikkan dalam diam, dari kesungguhan hatinya yang tak pernah berhenti berharap. Allah membukakan jalan di saat yang tak seorang pun bisa membayangkannya. Pintu yang tak pernah ia ketuk, justru yang lebih dulu terbuka.
Dengan hati yang penuh syukur Shafiyah menapaki langkah baru. Ia kembali berjuang menyelesaikan kuliahnya, meraih cita-cita yang sejak lama ia simpan di dada. Meski ayahnya telah tiada, ia merasakan doa dan semangat ayahnya masih bersamanya, menjadi angin yang menguatkan, menjadi cahaya yang menuntun.
Begitulah kisah Shafiyah menjadi bukti bahwa keajaiban bukan sekadar cerita. Di tengah kesulitan, di saat hati merasa kosong dan harapan nyaris padam, Allah selalu menyediakan jalan bagi mereka yang tetap bertahan dengan iman yang utuh. Shafiyah seperti aliran air yang tak pernah berhenti meski terhalang batu — terus mengalir, menembus arus kehidupan dengan tekad yang tak goyah.
Pada akhirnya Shafiyah memahami satu hal: keyakinannya kepada Allah-lah yang melahirkan semua keajaiban itu. Jika saja ia ragu, meskipun sekejap, mungkin kisahnya tak akan seindah ini.
Tentang Penulis
Gladis Ade Riana — muslimah yang memiliki hobi menulis dan sedang belajar merangkai sunyi menjadi kalimat, dan merawat luka menjadi makna. Hidup mempertemukannya dengan banyak kehilangan, namun juga mengajarkan cara kembali pulang kepada cahaya. Dalam setiap tulisannya, ia menyimpan harapan bahwa kata-kata dapat menjadi pelita bagi siapa pun yang sedang mencari arah. Penulis bisa dihubungi melalui Instagram @gladisariana_.

